Pemicu Bencana Banjir dan Angin Kencang Marak di Pulau Jawa Akhir-akhir ini

19 Januari 2022, 10:48 WIB
Pola Prakiraan Angin dengan ITCZ Sebagai Garis Pertemuan Angin dari Belahan Utara dan Belahan Selatan Memanjang mulai barat P. Jawa hingga Perairan Maluku Selatan /BMKG

ZONABANTEN.com – Seperti telah kita baca dan dengar serta tayangan media elektronik seperti televisi diwartakan dengan sebaran hujan lebat yang terjadi yang terkadang diikuti dengan angin kencang/puting beliung, hujan es dan petir alami peningkatan.

Seperti telah disampaikan sebelumnya oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang telah memberikan informasi jauh sebelumnya tentang periode puncak hujan di Pulau Jawa antara periode Januari – Februari, ternyata kondisi ini terjadi terutama akhir-akhir ini.

Dimana kawasan DKI Jakarta mulai dengan sebaran genangan air sejak siang hingga sore belum lagi dengan warta kondisi cuaca ekstrem yang terjadi dan berlangsung sebelumnya di Jawa Timur dengan marak sebaran kondisi cuaca esktrem berikut dampaknya pada lingkungan.

Baca Juga: Sah! RUU Pemindahan Ibu Kota Indonesia ke Kalimantan Resmi Disetujui DPR

Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) juga tidak mau kalah dengan warta dampak bencana cuaca ekstrem yang disebut dengan bencana hidrometeorologi basah, dimana marak warta tentang bencan hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Pulau Jawa.

Sesuai dengan penjelasan dari BMKG sebelumnya bahwa musim hujan ini diiringi fenomena global gejala La Nina yang artinya kondisi ini menggiatkan ketersediaan uap air melimpah bersamaan dengan curah hujan periode puncak musim hujan.

Situasi dan kondisi udara inilah yang memberikan situasi dan kondisi alam global yang berbarengan dengan kondisi regional memberikan akumulasi giatnya sebaran dan awan dan hujan di kawasan Indonesia khususn bagian selatan, papar Praktisi Cuaca, Iklim dan Lingkungan inisal PAW.

Baca Juga: Satu Warga Meninggal Akibat Banjir-Longsor Terjang Probolinggo, Jatim

Kondisi periode puncak musim hujan di kawasan Indonresia selatan garis ekuator ini menurutnya sebagai kondisi yang umum akibat pertemuan massa udara dari belahan Bumi Utara dan belahan Bumi Selatan yang dalam istilah ilmu Cuaca atau Geografi disebut ITCZ/DKAT.

DKAT kepanjangan dari Daerah Konvergensi Antar Tropis dan dalam operasional Meteorologi nia disebut sebagai Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis umumnya berbahas asing/Inggris, Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), paparnya.

ITCZ ini dapat dilihat dari pola arus angin yang dapat dilihat dari laman BMKG hari ini dengan daerah yang memanjang mulai barat P. Jawa hingga perairan Australia Utara umumnya giat sebagai kondisi umum pola regional saat periode puncak musim hujan di kawasan ini.

Baca Juga: Tenaga Honorer Resmi Dihapus di Seluruh Indonesia, Sebagai Gantinya Pemerintah Akan Gunakan Sistem ini

Kawasan ITCZ inilah yang merupakan kawasan yang aktif dan giat awan hujan yang menjulang tinggi memberi kondisi kondisi cuaca ekstrem di atas P. Jawa dalam beberapa hari ini, sehingga warta prakiraan dari BMKG seyogyanya menjadi perhatian dengan perkembangan cuaca ini.

Ini semua merupakan kondisi yang masih akan dialami selama periode puncak musim hujan untuk berbagai kawasan bukan saja di P. Jawa namun kawasan lainnya seperti P. Bali, Kepulauan di Nusa Tenggara. ***

Editor: Bunga Angeli

Tags

Terkini

Terpopuler