Lembah Ciletuh Tiga Kali Ganti 'Warna'

- 29 Juni 2020, 18:58 WIB
Geopark Ciletuh
Geopark Ciletuh //eRIE

ZONABANTEN.com - Ciletuh Geopark memang patut disambangi bagi pecinta keindahaan sejati. Di area yang total luasnya tak kurang dari 128.000 hektar itu merupakan salah lokasi adanya evolusi permukaan bumi yang paling kasat mata.

Ya, diperkirakan sekitar 60 juta tahun lalu Teluk Ciletuh terangkat dari dasar lautan akibat tumbukan Lempeng Eurasia (Lempeng Benua) dan Lempeng Indo-Australia (Lempeng Samudera).

Akibat dari pertemuan dua lempeng raksasa itulah yang memunculkan sebuah lembah di kawasan Sukabumi Selatan yang kini dikenal sebagai Ciletuh Geopark itu. Bentuknya yang serupa tapal kuda bagaikan amfiteater raksasa tersebut berisikan areal persawahan, perikanan laut.

Baca Juga: Fakta Unik Seputar Kehidupan Orochimaru, Shinobi yang Sangat Berbakat

Bentuk amfiteater itu bisa terlihat jika disimak seksama dari titik pandang yang berada di Panenjoan, ini merupakan titik pandang pertama saat memasuki kompleks Ciletuh Geopark. Di sekitarnya terdapat tiga air terjun, atau juga disebut Curug, yaitu Curug Awang, Curug Tengah, dan Curug Manik yang sekilas serupa air terjun Niagara.

Lembah Ciletuh merupakan areal persawahan, warnanya berubah sesuai musim tanam
Lembah Ciletuh merupakan areal persawahan, warnanya berubah sesuai musim tanam /eRIE

Kawasan yang berada di lingkungan Kabupaten Sukabumi itu sebenarnya bisa dikunjungi kapan saja alias tidak tergantung musim. Namun dengan adanya ribuan hektar areal persawahan yang ada di lembah Ciletuh memunculkan potensi perubahan ‘warna’ wilayah.

Hal tersebut akan terjadi seiring pula dengan perubahan cuaca seiring musimnya, tentu saja akan berpengaruh pada musim tanam padi. Seiring itu juga atmosfir wilayah yang jaraknya dari kota Pelabuhan Ratu sekitar 47 kilometer tersebut ikut berganti. 

Baca Juga: Selain Sukses di Dunia Entertainment, Lima Artis Cantik Ini Juga Hobi Yoga

Tanaman padi dan vegetasi lainnya di Ciletuh akan memunculkan warna-warna alaminya seiring musim
Tanaman padi dan vegetasi lainnya di Ciletuh akan memunculkan warna-warna alaminya seiring musim /eRIE

“Di Ciletuh ini, terutama yang di lembah bisa ganti ‘warna’ tiga kali dalam setahun,” buka Pak Ayi seorang warga di desa Girimukti. Pria yang rumahnya seputaran Puncak Darma itu (titik tertinggi di Ciletuh) sejurus kemudian menerangkan rincian perubahan warna alam tersebut.

“Musim kemarau, lembah warnanya kuning kecoklatan karena lahan sawah tinggal sisa tanah dan sedikit batang padi, nanti masuk musim penghujan sampai musim tanam sekitar bulan Januari berubah lagi warna jadi lebih kehijauan, dan sampai masuk waktu panen di sekitar Maret nanti warna jadi kuning warna padi,” jelasnya Ayi panjang lebar.

Baca Juga: Momen Langka, Hiu Paus Menampakkan Diri ke Nelayan Ujung Kulon

 Hati-hati saat bekunjung di musim penghujan, permukaan jalan di dataran rendah maupun perbukitan kompleks Ciletuh rawan licin
Hati-hati saat bekunjung di musim penghujan, permukaan jalan di dataran rendah maupun perbukitan kompleks Ciletuh rawan licin /eRIE

Pada musim penghujan, barisan air terjun yang jumlahnya tak jurang dari 13 titik itu akan mengalami peningkatan debit air. Lebih apik jika ingin mengabadikan pesonanya.

“Tapi kalau puncak musim hujan airnya akan kecoklatan,” ujar Ayi lagi. Menurutnya lagi, curug-curug akan berair jernih dan termasuk tinggi debitnya akan muncul sekitar bulan Desember.

Nah, kapan Anda akan berkunjung?*** 

Editor: Bondan Kartiko Kurniawan


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x