Sejumlah Jurnalis di Kepulauan Riau Tolak RUU Penyiaran, Tuntut DPR RI Batalkan Pasal-pasal Kontroversial

- 5 Juni 2024, 11:00 WIB
Sejumlah jurnalis dari berbagai organisasi di Kepulauan Riau (Kepri) melakukan aksi damai menolak revisi Undang-Undang Penyiaran pada Jumat, 31 Mei 2024
Sejumlah jurnalis dari berbagai organisasi di Kepulauan Riau (Kepri) melakukan aksi damai menolak revisi Undang-Undang Penyiaran pada Jumat, 31 Mei 2024 /ANTARA

ZONABANTEN.com – Sejumlah jurnalis di Kepulauan Riau tolak RUU Penyiaran, tuntut DPR RI batalkan pasal-pasal kontroversial. Isu terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran belakangan ini masih ramai disorot.

Terkait hal tersebut, Koalisi Jurnalis dan Mahasiswa Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melakukan aksi damai menolak RUU Penyiaran di Lapangan Pamedan A Yani, Kota Tanjungpinang pada Jumat, 31 Mei 2024.

Aksi damai ini diikuti oleh puluhan jurnalis dan mahasiswa dari berbagai organisasi pers, seperti Aliansi Jurnalis Indenpenden (AJI), Pewarta Foto Indonesia (PFI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kepri, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Pers Mahasiswa (Persma) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Abdurrahman.

Baca Juga: Pembahasannya Ditunda oleh DPR RI, Muhammad Farhan: RUU Penyiaran adalah Harmonisasi Atas UU Cipta Kerja 

“RUU Penyiaran yang saat ini tengah dibahas DPR dinilai mengekang kebebasan pers,” ujar Ketua AJI Tanjungpinang sekaligus koordinator lapangan aksi tersebut, Jailani.

Jailani juga menyampaikan, bahwa sejumlah pasal dalam draf revisi UU Penyiaran berpotensi mencederai demokrasi, hingga menghilangkan kemerdekaan pers dan kebebasan berekspresi.

Salah satu yang paling disorot adalah terkait larangan penayangan konten eksklusif jurnalisme investigasi.

Jailani berpendapat, bahwa larangan jurnalisme investigasi dalam rancangan itu sangat bertentangan dengan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Halaman:

Editor: Dinda Indah Puspa Rini

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah