Siapa Sosok Sabrang Mowo Damar Panuluh? Ini Profil Noe Letto Putra Cak Nun yang Kembali Memeluk Islam

- 27 Maret 2024, 23:46 WIB
Profil dan biodata Sabrang Mowo Damar Panaluh alias Noe Letto anak Cak Nun
Profil dan biodata Sabrang Mowo Damar Panaluh alias Noe Letto anak Cak Nun /Instagram/@noe.sabrang
 
 
ZONABANTEN.com- Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Noe Letto, menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan perjalanan spiritualnya yang mengejutkan. 
 
Sabrang Mowo Damar Panuluh merupakan anak dari ulama serta budayawan ternama Indonesia, Cak Nun. Namanya sudah dikenal cukup luas di dunia hiburan tanah air.
 
Sabrang Mowo Damar Panuluh kembali menjadi sorotan ketika dirinya menceritakan kisah inspiratifnya tentang menemukan makna agama dan keberadaan Tuhan.
 
Sebelumnya, disebutkan jika Noe atau Sabrang merupakan seorang yang menganut ajaran Atheis yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan.
 
 Namun, titik balik dalam hidupnya muncul saat ia merasakan kesulitan sebagai seorang gelandangan di Kanada. Tanpa uang dan tempat tinggal, ia mendapati perlindungan dan pencerahan di dalam sebuah masjid. 
 
Di situlah ia memulai perjalanan keagamaannya dengan bertanya kepada seorang Syekh tentang konsep setan dalam Islam. Dari pertemuan itu, Noe Letto menemukan jalan menuju Islam.
 
Walaupun sudah cukup populer, rupanya banyak masyarakat yang belum mengetahui akan siapa sebenarnya sosoknya, untuk itu dalam artikel ini Tim Zona Banten akan membahas lebih dalam terkait profil dan biodata lengkap dirinya.
 
 
Profil Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto
Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal dengan nama panggung Noe, adalah sosok yang dikenal sebagai vokalis dan keyboardis dari band Letto. 
 
Lahir pada tanggal 10 Juni 1979, Noe merupakan anak pertama dari budayawan terkenal, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun.
 
Dia menghabiskan masa kecilnya di Lampung, di mana dia menempuh pendidikan di SD 1 Yosomulyo dan SMP Xaverius Metro. 
 
Semasa SMP, dia mulai tertarik pada musik, terutama setelah mendengarkan kaset lagu-lagu Queen yang diberikan oleh pamannya. Itu memicu minatnya dalam menciptakan musik yang bisa menggerakkan hati orang lain.
 
Setelah menyelesaikan SMP, Noe kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di SMU 7 Yogyakarta. Di sana, dia bergabung dengan komunitas ayahnya dan bertemu dengan teman-temannya yang juga anggota band Letto.
 
Namun, pada tahun 1997, Noe harus melanjutkan pendidikan tinggi ke Universitas Alberta, Kanada, di mana dia mengambil jurusan matematika dan fisika.
 
Kehidupan di Kanada tidaklah mudah bagi Noe. Krisis moneter membuatnya harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikannya. 
 
 
Namun, dengan tekad dan ketekunan, Noe berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya dan kembali ke Yogya dengan gelar Bachelor of Mathematics dan Bachelor of Physics.
 
Setelah kembali ke Indonesia, Noe dan teman-temannya membentuk band Letto, di mana dia menjabat sebagai vokalis dan keyboardis. 
 
Perjalanan Karir Sabrang Mowo Damar Panuluh Alias Noe Letto
Perjalanan Noe dalam bermusik dimulai lagi setelah dirinya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Kanada.
 
Rasa cintanya terhadap musik membuat dirinya terus menerus mengulik berbagi hal tentang musik.
 
Setelah kembali ke Indonesia, Noe sering bermain musik di studio Kiai Kanjeng, di mana dia belajar tentang mixing, mastering, memproduksi, dan menulis musik. 
 
Pengalamannya di studio ini membantu Noe dalam menulis lirik lagu yang kemudian menjadi bagian dari album perdana Letto, "Truth, Cry, and Lie".
 
Pada tahun 2004, ketika lagu-lagu mereka menarik perhatian Musica, Noe dan teman-temannya resmi membentuk band yang diberi nama Letto. 
 
Debut album mereka, "Truth, Cry, and Lie", dirilis pada tahun 2006 dan meraih kesuksesan yang besar, bahkan mencapai double platinum. 
 
Kesuksesan tersebut mendorong Letto untuk melanjutkan dengan album kedua, "Don't Make Me Sad" pada tahun 2007.
 
Selain kesuksesan di dunia musik, Noe juga memiliki kegiatan di bidang produksi film. 
 
Pada tanggal 10 Juni 2008, Noe mendirikan Production House Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. 
 
Mereka merilis film perdana yang berjudul, "Minggu Pagi di Victoria Park", pada tanggal yang sama tahun 2010. 
 
 
Tak sampai disitu, ia kemudian merilis film keduanya yang berjudul, "RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya", yang ditulis oleh ayah Noe sendiri, Emha Ainun Nadjib, dan Viva Westi, bahkan karyanya ini meraih kesuksesan di kancah nasional.
 
Pada tahun 2015, Pic[k]Lock Productions bekerja sama dengan Yayasan Keluarga Besar H.O.S. Tjokroaminoto dan MSH Films, mereka kemudian meluncurkan film berjudul "Guru Bangsa Tjokroaminoto", yang disutradarai oleh Garin Nugroho.
 
Dengan bakatnya yang luar biasa dalam musik dan juga kesuksesannya di dunia perfilman, Noe Letto atau Sabrang Mowo Damar Panuluh menjadi salah satu sosok yang inspiratif dan berpengaruh di industri hiburan Indonesia.***

Editor: Bayu Kurniya Sandi

Sumber: p2k.stekom.ac.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah